Judul Proposal : CAMPUR KODE RAGAM BAHASA JAWA DALAM NOVEL “PENGAKUAN PARIYEM” KARYA LINUS SURYADI AG

  1. A.     Latar belakang masalah

Bahasa adalah sebuah alat komunikasi yang di gunakan oleh setiap indifidu, baik manusia maupun binatang dan makluk hidup yang lainnya. Bahasa adalah alat komunikasai yang yang sangat dibutuhkan dan memagang peranan penting sebagai ekspresi jiwa yang ada. Tanpa adanya sebuah bahasa maka kita tidak akan bisa berkomunikasi dan menukarkan pikiran kita dengan orang lain. Terutama bagi para manusia. Bahasa sangat dibutuhkan dalam proses interaksi untuk menukar pikiran maupun saling menyamakan pendapat.

Manusia bukan makhluk individu melainkan makhluk sosial yang di dalam kesehariannya membutuhkan yang namanya bahasa sebagai alat komunikasi. Disini bahasa memegang peranan yang sangat penting yaitu selain untuk alat komunikasa juga sebagai alat untuk bertukar pendapat dan bertransaksi. Tanpa sebuah bahasa maka manusia tak akan mampu untuk berbuat banyak. Bagai mana jika tidak ada bahasa, apakah kita bisa mengungkapkan kepada orang lain tentang apa yang kita fikirkan. Selain kegunaan di atas, bahasa juga menjadi alat indentitas sebuah negara. Contohnya negara Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi karena itu memang identitas sekaligus kebanggaan Bangsa Indonesia.

Sebuah komunikasi dapat berlangsung apabila bahasa yang diguakan dapat dipahami sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima. Apabila seseorang ingin menyatakan maksud,  baik kepada orang lain atau diri sendiri maka  sudah dapat dikatakan menggunakan komunikasi. Dalam suatu msayarakat tidak mungkin dapat berkomunikasi apabila anggota masyarakat tersebut tanpa menggunakan bahasa sebagai media atau sarananya. Jika kita tidak mempunyai bahasa, kita tidak akan bisa hidup sebagai mahluk sosial (Nababan, 1984: 46).

Dari uraian diatas sudah jelas dikatakan bahwa bahasa memegang peranan yang sangat fital. Apabila kita ingin sukses dalam komunikasi maka kita harus mampu menguasai bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi. Baik itu bahasa lisan, tulis maupun kade-kode atau bahasa tubuh.

Bahasa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dimanapun ada manusia maka disitu juga akan ada komunikasi. Melalui bahasa inilah akan menunjukkan seperti apa karekteristik para penggunanya. Karena bahasa merupakan ekspresi jiwa dari penuturnya. ( Samsuri, 1982;4 ) menyatakan bahasa dapat mengungkapkan aspek-aspek sosial yang dimiliki oleh lingkungan sosialnya. Bahasa itu tidak terpisah oleh manusia dan selalu mengikuti di setiap pekerjaanya, karena bahasa alat yang dipakai untuk membentuk pikiran, perasaan, keinginan, dan perbuatannya.

Dalam kenyataannya manusia selalu melakukan kegiatan komikasi dari satu orang kepada orang lain. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan informasi dan selalu berusaha mencari sesuatu yang dibutuhkan. Seperti halnya masyarakat yang berkomunikasi dalam bidang ekonomi, budaya, agama dan bidang sosial yang lainnya. Melalui kegiatan sosial inilah akan sangat besar peluang yang diperoleh para anggota masyarakat untuk menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya. Dengan adanya komunikasi dari satu masyarakat ke masyarakat lain maka akan terciptalah kemampuan berbahasa yang beraneka ragam. Rahardi (2001: 3) menyatakan bahwa dalam bidang bahasa, kenyataan tersebut mengakibatakan semakin bervariasinya kode-kode yang dimiliki dan dikuasai oleh anggota masyarakat itu. Sebagai bukti kemajemukan masyarakat dalam bidang bahasa yaitu terdapat banyak individu yang, memiliki dan menguasai banyak bahasa (multilingual) atau sedikitnya dua bahasa (bilingual).

Berkaitan dengan pennguasaan dalam menggunakan bahasa maka dalam hal ini akan membahas tentan pemakaian dua bahasa atau bilingual. Suwito (Rahardi, 2002; 3) menyebutkan bahwa perkodean sebenarnya meliputi berbagai hal, misalnya campur kode, interferensi, integrasi kode, alih kode, dan sebagainya. Karena terdapat banyak kemampuan bilingualisme maka peneliti akan menitik beratkan pada campur kode. Terutama tentang campur kode bahasa jawa yang terdapat dalam novel ”Pengakuan Pariyem” karya Linus Suryadi AG. Ragam bahasa yang  muncul karena pengaruh sosial budaya yang ada dalam masyarakat.

Dengan adanya fakta bahwa dalam novel ”Pengakuan Pariyem ” karya Linus Suryadi AG terdapat campur kode bahasa jawa maka penulis merasa tergugah untuk menelusuri lebih lanjut tentang penggunaan campur kode tersebut. (Rahardi, 2001:12-13) Sosioliguitik mengkaji bahasa dengan memperhitungkan  hubungan antara bahasa dengan masyarakat, khususnya masyarakat penutur bahasa itu. Sosioliguitik mempertimbangkan keterkaitan antar dua hal, yakni dengan linguitik untuk segi kebahasaannya, dan sosiologi untuk segi kemasyarakatannya. Novel ”Pengakuan Pariyem” ini banyak menggunakan campur kode bahasa Jawa. Dengan ini maka novel ” Pengakuan Pariyem” karya Linus Suryadi AG dijadikan narasumberbagi penulis untuk dijadikan sebuah penelitian dengan menggunakan campur kode sebagai pokok permasalahannya. Campur kode yang digunakan juga menjukkan bagaimana gaya hidup masyarakat jawa.

  1. B.     Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1.      Bentuk campur kode ragam bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia yang terdapat dalam Novel “Pengakuan Pariyem” karya Linus Suryadi AG.

2.      Sebab-sebab digunakan campur kode ragam bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia yang terdapat dalam Novel “Pengakuan Pariyem” karya Linus Suryadi AG.

3.      Fungsi campur kode ragam bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia yang terdapat dalam Novel“Pengakuan Pariyem” karya Linus Suryadi AG.

4.      Asal bahasa yang dipakai pada campur kode ragam bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia yang terdapat dalam Novel“Pengakuan Pariyem” karya Linus Suryadi AG.

  1. Perubahan makna dalam campur kode ragam bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia yang terdapat dalam Novel “Pengakuan Pariyem” karya Linus Suryadi AG.
  2. C.    Pembatasan Masalah.

Agar permasalahan dapat diselesaikan dan lebih terfokus, maka penelitian ini dibatasi pada beberapa masalah berikut ini:

  1. Sebab-sebab digunakan campur kode ragam bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia yang terdapat dalam Novel “Pengakuan Pariyem” karya Linus Suryadi AG.
  2. Fungsi campur kode ragam bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia yang terdapat dalam Novel“Pengakuan Pariyem” karya Linus Suryadi AG.
  3. D.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah, maka permasalahan dalam penelian ini dirumuskan sebagai berikut.

  1. Bagaimanakah sebab-sebab digunakan campur kode ragam bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia yang terdapat dalam Novel “Pengakuan Pariyem” karya Linus Suryadi AG?
  2. Apa fungsi campur kode ragam bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia yang terdapat dalam Novel“Pengakuan Pariyem” karya Linus Suryadi AG?
  3. E.     Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. Mendeskripsikan sebab-sebab digunakan campur kode ragam bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia yang terdapat dalam Novel “Pengakuan Pariyem” karya Linus Suryadi AG.
  2. Mendeskripsikan fungsi campur kode ragam bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia yang terdapat dalam Novel“Pengakuan Pariyem” karya Linus Suryadi AG.
  3. F.     Manfaat penelitian
    1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat mamberikan sumbangan terhadap pengembangan ilmu bahasa terutama dalam masalah campur kode yang ada di sekitar kita.

  1. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya tentang campur kode.

  1. G.    Penelitian yang relevan

Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah Makalah yang berjudul “Campur Kode Bahasa Madura Cerpen ”Dil To Pagal Hai” dalam Kumpulan Cerpen Ojung Karya Edi AH. Iyubenu”. Hasil dalam penelitian tersebut adalah menemukan bentuk–bentuk campur kode bahasa Madura dalam cerpen ”Dil To Pagal Hai Karya Edi AH. Iyubenu”, bagaimana bagaimana Campur kode bahasa Madura di situ menjadi ruh cerpen tersebut.

  1. H.    Kerangka Teori
    1. Sosiolinguistik

Sosiolinguistik merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang mempelajari dan membahas aspek-aspek kemasyarakatan bahasa, khususnya perbedaan-perbedaan (variasi) yang terdapat dalam bahasa yang berkaitan dengan factor kemasyarakatan (Nababan, 1984:2). Menurut Chaer, sosiolinguistik adalah subdisiplin linguistic yang mempelajari bahasa dalam hubungannya pemakaiannya di masyarakat.

Objek kajian sosiolinguistik adalah interaksi social dan telaah berbagai macam bahasa dan variasi bahasa yang terdapat dalam masyarakat penggunanya serta berbagai bentuk bahasa yang hidup dan dipertahankan di dalam masyarakat ( Kartomiharjo, 1988:4).

  1. Pengertian kode

Pemakaian kode berhubungan dengan latar belakang penutur, relasi penutur dengan lawan tutur, dan situasi yang melingkupi pembicaraan, Poedjosoedarmo (dalam Rahardi, 2001: 22). Latar belakang penutur bersangkutan dengan tingkat pendidikana dan status sosial. Unsur bahasa yang dipakai oleh kependidikan akan berbeda. Perbedaan itu dapat terletak pada perbendaharaan kata yang dipakainya. Orang yang berpendidikan akan lebih banyak memiliki perbendaharaan kata, baik kata dari bahasa yang digunakan sehari-hari maupun kata dari bahsa asing.

Rahardi (2001: 22) mengatakan bahwa kode adalah salah satu variasi di dalam hirarki kebahasaan yang dipakai dalam komunikasi. Dengan demikian, dalam sebuah bahasa dapat terkandung beberapa buah kode yang merupakan fariasi.

Dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan lambang bahasa yang terdapat masyarakat yang diakui dan dimengerti oleh siap lapisan masyarakat mengenai penamaan sebuah bahasa maupun segahal sesuatunya.

  1. Campur Kode

Sumarsono (Supartinah, 2001: 27), menyebutkan bahwa campu kode terjadi apabila penutur mencampurkan kata variasi bahasa lain ke dalam bahasa yang dipakainya. Dikatakan pula bahwa campur kode merupakan kosekwensi penutur yang menguasai dua bahasa atau lebih.

Campur kode merupakan pemakaian ragam bahasa lain dalam satu waktu secara bersamaan. Orang yang mampu menggunakan campur kode adalah orang yang menguasai berbagai macam bahasa (multilingual).

  1. Sebab- sebab terjadinya campur kode

Campur kode (code-mixing) terjadi apabila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan mendukung suatu tuturan disisipi dengan unsur bahasa lainnya. Hal ini biasanya berhubungan dengan karakteristk penutur, seperti latar belakang sosil, tingkat pendidikan, rasa keagamaan. Biasanya ciri menonjolnya berupa kesantaian atau situasi informal. Namun bisa terjadi karena keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasa tersebut tidak ada padanannya, sehingga ada keterpaksaan menggunakan bahasa lain, walaupun hanya mendukung satu fungsi. Campur kode termasuk juga konvergense kebahasaan (linguistic convergence).

Nababan (1983: 32)  menyebutkan bahwa suatu keadaan berbadasa lain adalah apabila orang mencampurkan dua (atau lebih) bahsa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa (speech act atau discourse) tanpa sesuatu dalam situas berbahasa itu yang menuntut pencampuran bahasa itu. Dalam keadaan demikian, hanya kesantaian penutur dan atau kebiasaanya yang dituruti. Tindak bahasa yang demikian disebut campur kode. Di Indonesia, campur kode ini sering sekali terdapat dalam seadaan orang berbincang-bincang, dalam hal ini yang dicampur adalah bahasa Indonesia dan bahasa daerah

  1. Alih Kode
    1. Pengertian Alih Kode

Alih kode ialah mengganti bahasa yang diguanakn oleh seseorang yang bilingual umpamanya dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia atau dari bahasa Indonesia ke bahasa asing (Subyakto, 1992: 105).

  1. Ciri-ciri Alih Kode

Suwito (1991: 80) mengemukakan bahwa cirri-ciri alih kode adalah; (a) masing-masing bahasa masih mendukung fungsi-fungsi tersendiri sesuai dengan konteksnya, (b) Fuingsi masing-masing bahasa disesuaikan dengan situasi yang relevan dengan perubahan konteks.

  1. Jenis-Jenis Alih Kode

Alih kode dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu alih kode internal dan alih kode eksternal.

 

1)      Alih Kode Internal

Alih kode internal adalah pergantian atau peralihan pemakaian bahasa yang terjadi antardialek, antarragam, atau antargaya dalam lingkup satu bahasa. Dalam suatu wilayah tertentu biasanya penutur bahasa mempunyai kemampuan menggunakan lebih dari satu variasi bahasa . variasi-variasi bahasa itu digunakan pada saat-saat tertentu apabila diperlukan (Suwito, 1985:69).

Hal tersebut menyebabkan adanya alih kode antardialek dan antarragam. Peralihan tersebut menyesuaikan dengan alasan penutur tersebut beralih kode, misalnya untuk menyesuaikan dengan kode lawan tuturnya, perubahan topic pembicaraan, perubahan situasi dari formal ke informal atau sebaliknya, untuk membangkitkan rasa humor, untuk menegaskan suatu hal, untuk menjelaskan hal yang telah disebutkan, untuk mengistimewakan yang disapa, atau untuk sekedar bergengsi.

Jadi, alih kode internal adalah peralihan kode antardialek atau antarragam dalam lingkup satu bahasa sesuai dengan alasan penutur tersebut beralih kode.

2)      Alih Kode Eksternal

Alih kode eksternal adalah perpindahan pemakaian bahasa dari bahasa satu ke bahasa yang berbeda. Di dalam masyarakat Indonesia sering sekali terjadi alih kode eksternal, terutama bagi penutur yang menguasai bahasa asing di samping menguasai bahasa Indonesia. Perpindahan tersebut tergantung situasi dan dan kondisi yang sesuai untuk menggunakan bahasa asing tersebut (Suwito, 1985 : 69).

Jadi, alih kode eksternal adalah peralihan kode antarbahasa.

 

 

  1. Faktor-faktor Penentu Terjadinya Alih Kode

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya alih kode tergantung pada maksud penutur. Seseorang melakukan alih kode dari kode yang satu ke kode yang lain pasti  memiliki maksud, misalnya penutur bermaksud ingin membertahu , menanyakan sesuatu, penutur mengalami kesulitan menggunakan kode tertentu, meminta ma’af, membuat ilustrasi atau contoh, menjawab pertanyaan, ingin membuat suasana menjadi tidak tegang, dan ingin bercanda (Suwito, 85-87).

Suwito (1991: 85-87) mengemukakan beerapa factor yang biasanya merupakan penyebab terjadinya alih kode adalah sebagai berikut:

1)      Penutur

2)      Lawan Tutur

3)      Hadirnya penutur ke tiga

4)      Pokok pembicaraan (topic)

5)      Untuk membangkitkan rasa humor

6)      Untuk sekedar bergengsi

  1. Persamaan dan Perbedan Campur Kode dan Alih Kode

Kesamaan antara alih kode dengan campur kode adalah digunakannya dua bahasa atau lebih, atau variasi dari sebuah bahasa dalan sutumasyarakat tutur.

Banyak ragam pendapat mengenai perbedaan keduanya. Namun yang jelas, kalau dalam alih kode  setiap bahasa atau ragam bahasa yang digunakan itu masih memiliki fungsi otonom masing-masing, dilakukan dengan sadar, dan sengaja dengan sebab-sebab tertentu, sedangkan di dalam campur kode ada sebuah kode utama atau kode dasar yang digukanan dan memilikia fungsi keotonomannya, sedangkan kode-kode lain yang terlibat dalam peristiwa itu hanyalah berupa serpihan-serpihan saja, tanpan fungsi atau keotonoman sebagai sebuah lode. Seorang penutur misalnya yang dalam bahasa Indonesia  banyak menyelipkan serpihan-serpihan bahasa daerah, akan muncul satu ragam bahsa Indonesia yang kejawa-jawaan (kalau bahasa daerah bahasa jawa) atau bahasa Indonesia yang kesunda-sundaan kalau bahasa daerah bahasa sunda (Chaer, 1995: 151).

  1. Kerangka pemikiran

Dari teori-teori yang telah dikemukakan di atas, kemudian dituangkan dalam kerangka pemikiran yang akan digunakan untuk membahas campur kode bahasa jawa dalam novel “Pengakuan Pariyem” karya Linus Suryadi AG.

Campur kode ragam bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia merupakan ragam bahasa daerah, yakni ragam bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi atau ragam santai untuk berbicang-bincang antar teman. Pada kenyataannya campur kode ragam bahasa Jawa yang cenderung santai ini selalu muncul dalam tuturan tertentu dan pemakaian tidak mengganggu jalannya komunikasi.

  1. I.       Batasan Istilah Operasional
    1. Campur kode adalah penggunaan satuan bahasa dari satu bahasa kebahasa yang lain untuk memperluas gaya bahasa atau ragam bahasa, pemakaian kata, klausa, idiom, sapaan, dan sebagainya (KBBI, 2001: 190).

2.      Ragam bahasa Jawa adalah ragam bahasa yang terdiri dari kata-kata dengan bahasa daerah khususnya bahasa jawa, disusun secara khas dan dipakai oleh  masyarakat Jawa dalam komunikasi percakapan sehari-hari.

  1. J.      Metode Penelitian
    1. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian adalah sesuatu baik orang maupun barang yang berisi keterangan mengenai objek yang akan diteliti. Berdasarkan batasan diatas yang menjadi subjek penelitian adalah novel “Pengakuan Pariyem” karya Linus suryadi AG.

Objek penelitian ini adalah keseluruhan data yang berhubungan campur kode bahasa jawa yang terdapat dalam novel “Pengakuan Pariyem” karya Linus suryadi AG.

  1. Metode pengumpulan data.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan metode baca dan catat, dengan menyajikan data-data yang objektif mengenai campur kode bahasa jawa dalam novel “Pengakuan Pariyem” karya Linus suryadi AG. Pencarian data dengan membaca dilakukan dengan teliti untuk memperoleh data yang falit dan yang benar-benar dicari. Setelah semua data terkumpul kemudian penulis mengklasifikasikan berdasarkan fungsi masing-masing. Data tersebut dapat berupa frase, kalimat, atau paragraf yang kemudian dimasukkan dalam kartu data yang didokumentasikan untuk digunakan sebagai sumberinformasi.

  1. Instrumen penelitian

Dalam penelitian ini alat penelitiannya selain peneliti sendiri juga menggunakan alat bantu lain yakni kartu data dan komputer. Kartu data digunakan untuk menulis data yang ada dan komputer digunakan untuk mendokumentasikannya. Instrumen penelitian adalah seperangkat alat yang dipergunakan untuk memperoleh data dalam penelitian (Suharsimi, 2002: 26).

  1. Metode Analisis Data

Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang digunakan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan data-data yang diperoleh melalui studi deskriptif. Penelitian ini tidak mengutamakan angka-angka tetapi mengutamakan penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang dikaji secara empiris.

Teknik analisis data diperoleh dari membaca dan memahami sagala sesuatu yang terkandugn dalam novel ” Pengakuan Pariyem” Karya Linus Suryadi AG.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Pragtik. Yogyakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul dan leony, Agustina. 1995. Pengantar Awal liguistik. Jakarta. Rieneka Cipta.

Iyubenu, Edi AH. 2003. Ojung. Yogyakarta: Pustaka Sastra LKiS

Kridalaksana, harimukti. 1984. Kamus Ligustik. Jakarta: Gramedia.

Nababan, P.W.J. 1983. Sosioliguistik Suatu Pengajaran. Jakarta. Gramedia.

Rahardi, Kunjana. 2001. Sosioliguitik Kode dan Alih Kode. Yogyakarta: pustaka Pelajar.

Samsuri, dan Sujiati. 1994. Ulasan Cerita Rakyat Jawa Timur. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara.

Subyakto. 1992. Metode dan Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Sulaiman. 2008. Campur Kode Bahasa Madura Cerpen ”Dil To Pagal Hai” dalam Kumpulan Cerpen Ojung Karya Edi AH. Iyubenu. Makalah yang digunakan dalam memenuhi tugas mata kuliah Sosiolinguistik, semester VI, Prodi PBSI, FKIP, Universitas Ahmad Dahlan.

Suryadi AG, Linus. 2008 cetakan ketujuh. Pengakuan Pariyem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suwito. 1985. Sosiolinguistik :Pengantar Awal. Solo: Henry Offset.

 

 

 

 

 

 

 

 

CAMPUR KODE RAGAM BAHASA JAWA DALAM NOVEL “PENGAKUAN PARIYEM” KARYA

LINUS SURYADI AG

Proposal

Disusun Oleh:

ABDULLAH DIAN FEBRIANTA

08003237

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

YOGYAKARTA

2011